Kali ini saya benar-benar ingin mengangkat ransel, tapi ke tempat tak terlalu jauh. Sejak awal saya sudah berpikir menuju tempat ini. Air terjun Cibereum di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Cibodas, Jawa Barat. Saya rasa satu hari pun cukup untuk menjejakinya.
Seperti biasa, saya jejali ransel kesayangan saya dengan pernak-pernik yang membuat saya merasa aman. Walaupun cuma akan mendaki dua jam, kemungkinan terburuk masih tetep ada toh? So…jadilah raincoat, baju ganti, senter+batere, makanan, minuman, pisau lipat, dll menyatu di ransel saya itu.
Dari rumah saya menuju stasiun Tebet. Saya anti bus. Apalagi bus-bus gede menuju kawasan Puncak. Wah maaf-maaf deh, yang ada pasti jackpot ! hihihihih bodo amat dibilang norak. Lagipula naik kereta tuh menyenangkan. Sensasinya beda buat orang hobi jalan-jalan tapi kere kayak saya ini.
Sampe di stasiun Bogor, saya langsung menuju Taman Topi untuk cari angkot 03 jurusan Baranangsiang. Nggak susah kok. Secara Bogor itu udah berganti julukan jadi “Kota Angkot”. Lalu saya turun di sebrang Hero atau tepatnya nggak jauh dari Botani Square. Nah di situ banyak banget mobil L-300 berjejer, untuk tujuan SUkabumi dan Cianjur.
Jangan salah ya. Naik mobilnya yang jurusan Cianjur atau bilang aja Cibodas. Jangan lupa ditawar dulu daripada kejebak di belakangannya. Biasanya mobil-mobil ini kalo belum padat penumpang, belum mau jalan. Komplain aja terus. Kalo nggak mempan, ancem aja “gue turun nih bang nyari mobil lain”. Palingan mereka jawab “bentar lagi kok neng”.
Setelah itu turun di pertigaan Cibodas langsung cari angkot ke Taman Nasional. Taraaa…setelah beli tiket di pos PHPA pendakian pun dimulai. Assalamualaikum ! saya datang. Wewangian tanah basah khas hutan tropis mulai terasa. Setapak itu pun tak jauh berbeda. Masih dari batu-batu yang membentuk anak tangga. Yang bikin saya bersemangat, ada jembatan kayu yang bakal meringankan perjalanan ini.
Sesekali saya berhenti mengatur nafas. Butir-butir keringat membabi-buta membasahi semua yang menempel di tubuh saya. Ini bukan pendakian berat, tapi cukup menguras tenaga. Akhirnya sampai di telaga biru. Perpaduan danau dengan sungai kecil jernih yang mengalir di sisinya. Sekedar saran, hindari tempat ini di saat maghrib. Konon…ada pasukan berkuda tapi gaib lewat di tempat ini. Dan itu bisa ngebawa orang yang kebetulan sedang melintas. Kebenarannya cuma Allah yang tau.
Dari telaga biru, jembatan kayu sudah tak jauh. Dan akhirnya saya menginjakan kaki di situ. Ada padang rumput kecil yang bakal kita lewati dari atas jembatan. Dari situ kelihatan puncak Pangrango yang menjulang. Keren buat foto-foto. Setelah habis jembatan, saya kembali ke jalan setapak yang menanjak drastis.
Jangan kuatir teman, itu cuma dikit kok. Setelah nanjak itu saya mendapati pertigaan. Kalau ambil lurus berarti meneruskan mendaki, kalau ke kanan berarti Air Terjun Cibereum. Pasti saya ambil ke kanan sesuai tujuan. Lagi-lagi saya ditemukan dengan jembatan kayu sang penolong itu.
ffffffhhh…..sampe juga akhirnya di air terjun. Nggak basa-basi deh, saya langsung mendekati air terjun utama (ada tiga air terjun di situ). Saya duduk di sebuah batu besar. Dari situ jelas terlihat jatuhnya air dari ketinggian berpuluh meter menghantam langsung batu-batu di bawahnya. Dari situ saya bisa merasakan bulir-bulir air terbawa angin dan memerciki muka saya yang kuyu. Inilah terapi yang saya nantikan.
Air terjun ini merupakan lembah di kawasan gunung tersebut. Nggak heran kalo angin bertiup kencang dan dingin. Apalagi tempat itu dikelilingi tebig-tebing cadas yang angkuh. Sejauh mata memandang, saya hanya menemukan tebing dan tebing selayaknya air terjun lain. SOre semakin dingin. Dan saya pun melangkah pulang. Tidak ada yang istimewa, hanya saya mendapat penyegaran yang sungguh berarti daripada nggak sama sekali.






