Kampung Cipta Gelar dengan penduduknya yang disebut Kasepuhan Banten Kidul bisa dibilang magnet bagi penikmat wisata budaya sekaligus offroader. Gimana nggak ? Kampung ini terletak ribuan mdpl dan cuma bisa dijangkau dengan kendaraan 4WD, motor penduduk atau berjalan kaki dari desa terakhir.
Hampir tiap tahun, kampung Cipta Gelar dikunjungi ratusan bahkan ribuan orang. Biasanya mereka datang saat upacara Seren Taun atau syukuran penutupan panen. Saya rasa siapapun bisa mengakses informasi dari berbagai media cetak, elektronik maupun on line. Bahkan dari ratusan blog yang notabene berperan sebagai citizen journalism.
Tapi Kali ini saya mencoba mengangkat sisi lain dari pandangan mata saya. Melewati jalan terjal perbukitan merupakan resiko siapa pun yang telah menyatakan siap mengunjungi Cipta Gelar. Buat para offroader, selamat datang di wilayah pemacu adrenalin namun cozy dengan hijaunya daun dan sejuknya udara. Tidak melulu tanah bergelombang yang membuat mobil beterbangan.
Saya lupa dibagian mana tiba-tiba jalan sudah berubah. Di kanan-kiri bukan lagi sawah dan kebun, melainkan jurang menganga yang siap menelan siapa pun juga. Deru mesin pun menggila. Ya, nafas mobil-mobil 4WD itu sedang dipacu terus dan terus hingga melewati satu-persatu tanjakan terjal. Bukan hanya terjal, tapi juga panjang dan berliku tajam.
Saya pindah ke bagian belakang Willis yang saat itu saya tumpangi. Suasana hening. Semua orang berusaha memusatkan konsentrasi ke arah jalan. Bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Benar saja ! Willis kehabisan nafas tepat di tengah tanjakan panjang. Maklumlah, ia memang sudah tua.
Perlahan mobil mulai bergerak mundur. Saya pucat, semua pucat. Tangan saya berpegang erat di sisi mobil dan tiang-tiang penyangga jeep tersebut. Sementara, teman saya yang menyetir berusaha mengendalikan laju mobil. Teman saya satu lagi bilang “Begitu jeep sampai di bibir jurang, semua loncat keluar,” Degup jantung terdengar sampai telinga sendiri.
Mobil akhirnya menabrak willis lain di belakang saya. Beruntung, pengemudi Willis itu sudah keluar duluan. Rupanya dia tanggap menangkap gelagat kurang baik. Salah satu pengemudi lain lari menghampiri Willis saya. Dia meneriakkan supaya teman saya cepat-cepat mencabut kunci. Dengan begitu, Willis berhenti dengan sendirinya. Ya, berhasil. Akhirnya mobil berhenti dengan posisi mengarah ke jurang.
Kami mengawali perjalanan pagi hari dari Pelabuhan Ratu. Dan (seingat saya) tiba di gerbang Cipta Gelar tepat adzan maghrib. Itu sudah dipotong waktu sholat Jumat, makan siang dll. Di gerbang Cipta Gelar itu permukiman penduduk mulai banyak di temui. Sepanjang jalan pun banyak warung kopi untuk sekedar bersantai melepas tegang.
Sejujurnya, di titik ini saya sedikit tersentak. Beberapa abege perempuan mengintip di balik pintu dan jendela rumah mereka. Lama-lama bukan hanya mengintip. Mereka mulai keluar dengan senyum dan tatapan menggoda. Sengaja saya bersembunyi di balik topi dan jaket untuk mengamati gerak-gerik perempuan-perempuan itu.
Hmmmm…diluar dugaan. Saya berpikir akan menemukan penduduk seperti waktu saya mengunjungi Baduy. Perempuan berbusana etnik yang malu-malu. Tatapan mata curiga ke pendatang asing. Atau ciri khas perempuan desa pada umumnya. Tapi anggapan saya salah. Mungkin ini lah surga buat cowok-cowok yang suka iseng atau berniat iseng.
Akhirnya dan akhirnya lagi, saya benar-benar sampai di Cipta Gelar. Kebetulan rombongan kami kebagian bermalam di rumah istri ke sekiannya abah anom (hohohoho…pemimpinnya istrinya banyak lhoo). Mungkin itu yang dibilang “buah jatuh tak jauh dari pohonnya.” Katanya sih Abah Anom itu bergilir ngunjungin istri-istrinya. Misalnya 3 hari si A, lalu B, kemudian C dan entah sampai berapa banyak.
Rumah itu nyaman. Berbentuk panggung dengan dinding bilik. Pastinya kalau malam dingin. Sejumlah ibu-ibu standby di dapur menyiapkan makan malam kami. Nasi putih, nasi beras merah, ayam goreng, tempe, sayur sop dan sambel khas Sunda. Pasti yang uniknya jatuh pada nasi merah, cuma rasanya kurang mantap.
Kamar di rumah istrinya Abah Anom itu khusus buat pasutri. Kalo yang single mah cukup gelar sleeping bag rame-rame. Tapi lebih seru begitu sih. Halaman rumah ini luas banget. Cukuplah untuk belasan mobil parkir. Saya senang di sana karena lingkungannya yang bersih. Untuk buka tenda pun oke banget.
Mengenai lingkungan, Cipta Gelar layak diacungi jempol. Mereka sangat sadar kalau alam beserta isinya ini adalah ciptaan Tuhan. Secara prinsip, warga kasepuhan adat Banten Kidul itu merasa nggak berhak untuk ngerusak alam. Terbukti ada hutan yang namanya “Hutan Larangan.” Di hutan itu, nggak ada seorang manusia pun yang boleh memetik, mengambil apalagi merusak seisi hutan. Memang nggak ada penjaganya, tapi hukum rimba tetap berlaku lho. Misalnya gini, kalo ada warga nekat nebang pohon, dijamin beberapa hari kemudian dia sakit tanpa sebab.
Tapi sayang, warga kurang bisa menangkap potensi pasar kerajinan tangan ala Cipta Gelar. Saat saya iseng cari pernak-pernik, salah satu warga baru bergerak cari akar untuk dijadikan gelang. Mereka sama sekali nggak punya stok suvenir buat pengunjung. Tau sendiri kan ? Bagi perempuan, nggak lengkap jalan-jalan tanpa belanja.
Besok paginya, saya mengunjungi Imah Gede tempat Abah Anom tinggal. Di halaman Imah Gede, banyak pengunjung yang berkeliaran. Tampak barisan mobil-mobil 4WD di tiap sudut lahan tersebut. Pengunjung satu dan yang lainnya pun bersosialisasi mengakrabkan diri.
Di Imah Gede lagi-lagi saya kaget. Baru memasuki pintu rumah, ada seorang perempuan duduk di pojok. Bajunya super ketat dengan rokok menyala di tangan. Mata liarnya nampak memperhatikan saya dan rombongan. Buat saya rasanya penting banget untuk tau siapa dia, darimana asalnya, sedang apa disini, apa pekerjaannya dll. Tapi beberapa teman melarang saya menanyakan itu semua.
Saya penasaran bertemu Abah Anom. Tapi ngantrinya panjang. Di situlah pengunjung terbagi dua lagi. Rasional dan sebaliknya. Kenapa irasional ? Karena mereka rela ngantre berjam-jam ketemu Abah Anom untuk sharing kehidupan plus minta wangsit. He ? hari gini wangsit.
Nah, sayangnya saya belum pernah ikut merayakan Seren Taun di sana. Tapi menurut seorang teman, upacara adat hanya berlangsung sekitar dua jam. Itu merupakan prosesi memasukan ikatan padi ke dalam lumbung Leuit Si Jimat. Konon, warga Kasepuhan Adat Banten Kidul itu nggak pernah kekurangan pangan. Mereka punya pertahanan luar biasa untuk urusan perut.
Saat ditanya kuncinya, cuma satu jawaban mereka yaitu gotong royong. Mereka bahu membahu mencukupi kebutuhan pokok sesamanya. Karena itulah, warga Cipta Gelar nggak pernah memperjualbelikan padi maupun beras ke luar wilayah tersebut. Nggak kayak kita. Wong minyak tanah lagi langka, masih ada aja yang nyelundupin. Kasihan dong sama yang nggak mampu beli elpiji.
Untuk menuju kesana dengan kendaraan umum, saya cuma bisa saranin ke Terminal pelabuhan Ratu dulu. Dari sana, cari informasi kendaraan yang menuju Cisolok. Ada sih jeep yang bisa disewa. Tapi nggak tau berapa harga terbarunya.
Sekedar tips, kalo nggak terpaksa banget jangan naik ojek ya. Karena, naik ojek ke Cipta Gelar sama aja naik halilintar di Dufan tanpa sabuk pengaman. Harus pinter-pinter nyeimbangin badan. Mental kiri, kanan, bisa juga mental ke jurang. Di jamin pegel (kalo selamet).
Oh iya, tanggal 1 dan 2 Agustus mendatang, ada Seren Taun di Cipta Gelar. Memang sih jatuhnya di hari pertama puasa. Siapa tau sensasinya beda dan makin oke. Silahkan coba !